Jika mengatakan "aku ingin mati saja" terdengan ilegal, maka aku hanya ingin berhenti sejenak. Berhenti untuk: melangkah, merasa, berpikir, membuat rencana, dan berhenti untuk peduli.
Senin pagi yang hampir menyentuh rasa putus asa, justru semakin buntu ketika matahari semakin tinggi. Ku tunda air mataku, ku redam semua emosi yang tak sabar ingin mencuat. Aku mulai kebingungan lagi di mana batasku ditentukan.
Di kehidupan yang hanya sekali ini di dunia, aku hanya ingin merasa menang. Dalam kasih, dalam cinta, dalam sayang.
Ia sempat hadir, bersama semua hal yang selama ini aku langitkan. Aku terperenjat oleh sosoknya, "inikah waktuku? inikah jawaban yang Tuhan siapkan untukku?" Ia aku jaga, ia aku rawat. Hanya karena aku menghargai hal yang selama ini aku upayakan.
Saling merayakan, saling mengusahakan, saling menguatkan, dan saling mendukung.
"benarkah aku menuju awal keabadian yang indah?"
Oh tidak, sungguh satu langkah setelah ini di luar kuasaku. Kuasa-Nya lebih dahsyat.
Lagi-lagi, aku belajar lagi. Dunia adalah tempat perjudian terbesar.
dan aku kalah.
