Luka di Bulan September #2
September 13, 2026Duka itu tak melulu tentang tangis yang percah saat kita sepakat berpisah. Duka bisa berupa air mata yang mengalir deras saat ku buka hadiah yang kau beri untukku, dan bertambah deras saat aku membaca surat yang kau tulis. Menyadari bahwa hal itu adalah terakhir kalinya yang akan ku terima darimu. Duka itu kembali menyelinap di hari Minggu siang. Ketika aku terduduk di kasur sembari menatap ke luar jendela kamar. Mengingat kembali bahwa kita pernah saling mengusahakan. Mengingat bahwa kita pernah saling mencurahkan rasa kasih sayang. Namun sayangnya, kita harus berubah bentuk.
Duka yang aku punya berbentuk sisa tulisanmu yang masih aku simpan dengan rapi. Masih terus aku usahakan duduk bersama realita yang terjadi, menyadarinya ada di sampingku agar tidak terlarut dalam potensi yang pernah hinggap di kepalaku. Kita memang pernah ada, namun tidak akan ada lagi di masa depan atau di masa kapan pun.
Hingga terakhir, kita masih terus meminta maaf dan memaafkan. Tapi, apa yang sebetulnya sedang kita perbaiki?