Luka di Bulan September #1

September 13, 2026

Perpisahan itu datang lebih cepat dari yang aku kira, meskipun tak pernah ada hal yang aku kira selama ini. Namun, sesungguhnya intuisi justru merangkak pelan dan dalam sebelum perpisahan itu disepakati.

Senin malam, sungguh bukan waktu yang menyenangkan untuk diingat. Bagaimana kita bertemu sembari mengelabui hati yang mulai terasa berat, aku yakin kamu merasakan itu. Bagaimana kita makan di tempat yang selama ini aku inginkan, yang ternyata suasana hati kita membuat makanannya terasa hambar. aku tak akan pergi ke tempat itu lagi. Bagaimana kita tiba-tiba terlibat obrolan yang canggung, mengingat kembali berapa banyak pertemuan yang sudah kita lalui, dan berpikir mungkin ini saatnya kita mengakhiri semuanya.

Lantas aku tertawa kecut, belum ada kesepakatan yang kita temukan sampai akhirnya kita memutuskan berjalan kaki di trotoar. Gelap dan langkahku berat.

Di kursi depan mobilmu itu, kita kembali berdiskusi mengenai perpisahan. Kita berusaha berbicara dengan pelan dan lembut, karena perpisahan pun sudah sangat menyakitkan untuk terucap.

Aku tidak marah.

Aku tidak menangis.

Aku hanya tersenyum.

Dan bingung.

Pulang dengan keadaan yang sudah berbeda dalam waktu semalam, sungguh membuat perjalanan terasa cukup panjang. Ternyata, malam itu aku harus menggali kubur untuk semua mimpi dan harapan yang sempat hidup di hatiku.

Tapi yang paling penting, hari itu aku menatap wajahmu lekat karena raut itu tak akan pernah aku lihat lagi. dan aku bertutur "Sekarang aku tak perlu takut lagi kehilangan dirimu"

Karena kebaikanmu abadi di dasar hatiku.